Menengok Keberagaman Model Layanan Terapi dan Rehabilitasi di Indonesia

Indonesia Darurat Narkoba”, sebuah pernyataan dari Presiden Jokowi pada 2015 menjadi tamparan keras bagi kita sebagai bangsa Indonesia. Lagi-lagi negara  kecolongan, narkoba telah  menyebar diseluruh pelosok tanah air, menggerogoti mental anak bangsa hingga merusak hampir semua aspek kehidupan. Kedaruratan narkoba pada saat itu telah direspon dengan sangat cepat oleh pemerintah melalui pencanangan “Program Rehabilitasi bagi 100.000 Pecandu di Indonesia”. Ini menjadi salah satu bukti keseriusan pemerintah untuk menyelamatkan bangsa dari ancaman narkoba.

 

Fenomena tersebut berimbas pada membludaknya penyedia layanan terapi dan rehabilitasi di negeri kita. Mulai dari pemain lama yang sudah memiliki banyak pengalaman hingga pemain baru yang masih pada tahapan “mencoba” dengan hanya berbekal kepedulian. Pemerintah, LSM, lingkungan keagamaan, komunitas dan komponen masyarakat lainnya menjadi bagian didalamnya. Beragam metode layanan terapi dan rehabilitasi telah menjamur di berbagai wilayah diantaranya: Metode Therapeutic Community (TC), 12 steps, religi, tradisional serta metode alternatif lainnya, baik dengan pendekatan medis maupun sosial.  

 

Positifnya, hal ini menjadi sebuah gerakan kepedulian dan wujud peran serta seluruh lapisan masyarakat terhadap masalah narkoba yang belum usai. Namun, model keberagaman layanan terapi dan rehabilitasi sebagai kekayaan negeri ini, alangkah baiknya ditinjau kembali dan dikaji secara ilmiah efektifitasnya. Guna melahirkan metode berbasis bukti dan menjadi praktek rehabilitasi terbaik di tanah air. Upaya tersebut juga menjadi bagian dari wujud pertanggungjawaban terhadap publik, terutama korban narkoba.

 

Belajar dari  negara Australia, program terapi dan rehabilitasi yang dijalankan mengacu pada metode terapi berbasis bukti yang bersumber dari penelitian terkini, hasil pengalaman rehabilitasi yang cukup luas serta mengadopsi dari internasional best practice. Dalam hal ini metode yang diterapkan adalah TC dan 12 Steps yang secara internasional sudah diakui sebagai terapi berbasis bukti. Hebatnya, metode tersebut juga diintegrasikan dengan layanan dukungan keluarga, sekolah, masyarakat serta terapi kerja, dan telah terbukti berhasil. 

 

Keberagaman model layanan yang kita miliki akan menjadi kekayaan yang luar biasa jika  diteliti dan terbukti efektif untuk diterapkan. Akhirnya, Indonesia akan berhasil menjadi bangsa yang mampu melakukan praktek layanan rehabilitasi secara profesional guna membantu korban narkoba untuk  pulih dan produktif ditengah masyarakat.

 

Oleh

Dita Amalia, S.Sos.,M.Psi.

Direktur PLATO Foundation