PECANDU DALAM PEMULIHAN DARI PULAU GARAM

             Sebuah kisah kehidupan dari pemuda yang 22 tahun lalu dilahirkan di salah satu Pulau di Indonesia, yaitu Pulau Garam. Masa kecil Fikri dilalui dengan riang gembira selayak anak kecil di usianya. Hari demi hari telah berlalu dan sejak mengenyam dunia Sekolah Dasar, Fiki’ (nama panggilan kesayangan orang tua) mulai  berbuat ulah walau masih terkontrol. Barulah sejak kelas 5 SD Fiki’ mengenal dan mencoba alkohol serta sudah mulai berani untuk merokok. Memang sejak kecil sosok seorang Fiki’ tersebut tidak akur dengan sang ibu, tetapi semuanya termonitoring oleh sang ayahnya. Setelah lulus SD, Fikri’ mengenyam pendidikan SMP nya di sebuah Pondok Pesantren di kota Pamekasan. Di Ponpes tersebut dia mulai belajar tentang ilmu agama dan juga sempat kompetisi Tilawatil Qur’an tingkat satu Ponpes, meskipun belum mendapatkan rejeki menjari juara dalam kompetisi tersebut, tetapi semangat untuk memperdalam ilmu agama sangat kuat. Selain ilmu tentang agama, juga sangat tekun untuk belajar ilmu Bahasa Inggris yang sampai akhirnya mengantarkan Fiki’ belajar ke Kampung Inggris di Kota Pare Kediri.

            Dengan ijin dan restu orang tua semangat belajar tentang bahasa asing yang kuat di kota orang tersebut ditempuh dengan waktu 8 bulan. Disana selain belajar juga semakin parah kebiasaannya untuk minum alkohol yang bisa dikatakan hampir setiap hari. Tingkat kecanduannya pun juga berubah untuk menggunakan zat yang lainnya yaitu shabu. Tepatnya pada waktu penghujung pergantian tahun 2012-2013. Dengan niatan diri sendiri tanpa ada paksaan dari manapun untuk berhenti total mulai dari tidak merokok, tidak minum miras dan tidak memakai shabu pernah dijalaninya, namun bertahan hanya 4 bulan saja. Dan kejadian satu tahun yang lalupun terulang lagi pada pergantian tahun ke 2014.

            Setelah 2 tahun berlalu dengan tingkat kecanduan napza yang meningkat, mulailah keluarga memberikan nasehat dan saran agar masuk rehabilitasi, tetapi dengan alasan apapun niatan orang tua dan keluarga tersebut belum ada hasil yang diinginkan. Setelah mencari info kesana kemari akhirnya kakaknya mendapatkan contac person direktur salah satu lembaga rehabilitasi di kota Surabaya, dengan nama PLATO. Disitulah keluarga dan pihak lembaga menyusun rencana intervensi agar Fiki’ bersedia masuk lembaga rehabilitasi narkoba.

            Di awal mengikuti dan menjalani program terapi pemulihan Fiki’ terlihat belum menerima dan berontak untuk pulang.Dia merasa bahwa tidak butuh program pemulihan seperti yang ada di lembaga rehabilitasi ini. Hari demi hari dilaluinya, konseling demi konseling dijalaninya, serta kegiatan demi kegiatan diikutinya.Pemikirannya semakin terbuka bahwa dia tidak akan kuat untuk menjalani pemulihan dengan seorang diri. Konselor Fiki’ pun juga sering memberikan konseling dan mengoneksikan didunia luar yang lebih kejam. Fiki’ adalah sosok seorang yang lebih menonjol dibandingkan teman sebaya di tempat pemulahan ini. Mulai dengan gaya rambutnya yang kontroversi sampai dengan tugas hafalan yang disetorkan menggunakan bahasa inggris. Disisi lain sosok Fiki’ lah juga yang paling kritis, mulai dari dia yang selalu bertanya, dimana pertanyaan tersebut tidak ada didalam benak teman-teman sebayanya, disitulah tingkat kedewasaan dan honesty nya mulai nampak.

            Setelah melalui hari demi hari di program pemulihan selama 3bulan barulah dia naik fase ke tingkat Rumah Damping, yang mana minat dan bakatnya harus benar-benar digali serta dibimbing. Di rumah damping tersebutlah dia juga menunjukkan bahwa dirinya bisa berubah, mulai dari dia bisa dijadikan sebagai sosok percontohan (role model) bagi teman sebayanya. Setelah 2bulan berlalu di rumah kedewasaan (Rumah Damping Plato), dia belum berani untuk pulang kerumah dengan dalih bahwa dia belum siap menjalani kehidupan di luar tempat pemulihan. Fiki’ dengan sadar masih menginginkan berada di komunitas yang aman dan jauh dari narkoba untuk mendukung pemulihan bagi dirinya.

Setelah Program selesai dan Fiki’ belum siap pulang, dia menjadi volunter  di PLATO. Sebagai volunter inilah sosok sang Fiki’ dihadapkan pada pembuktian untuk benar-benar dapat berubah. Dia mulai bisa memberikan role model kepada para residen baru, serta mendapatkan kepercayaan dari para konselor untuk membantu konselor menjalankan kegiatan rutinitas yang berjalan di Plato ini dan mengaplikasikan ilmu-ilmu yang sudah dia dapat. Tidak hanya itu, Fiki’ juga mendapatkan kesempatan untuk mengisi kegiatan testimoni di berbagai sekolah untuk berbagi pengalaman dan mengajak untuk berhenti memakai narkoba, karena hidup tidak menggunakan narkoba itu jauh lebih baik, serta berupaya mengajak untuk mengikuti program pemulihan bagi mereka yang masih aktif menggunakan narkoba. Sang kritikus dari Pulau Garam inilah salah satu dari agen perubahan minimal dari diri sendiri serta menghimbau kepada sesama pengguna narkoba agar berhenti sekarang juga, kalau tidak sekarang kapan lagi mau berubah.

 

By Rangga Mahardika