Pelatihan Guru BK SMP & SMA Sebagai Katalisator Pencegahan dan Penanggulangan NAPZA Berbasis Sekol

Peredarangelap NAPZA,penyalahgunaan hingga pada masalah ketergantungan NAPZA menjadi isu kritis dihampir semua lapisan masyarakat. Faktanya penyalahgunaan NAPZA tidak hanya terjadi  dikalangan orang dewasa, akan tetapi sudah  merasuki dunia anak dan remaja, bahkan sudah marak terjadi pada siswa di sekolah. Kondisi tersebut telah mengancam kehidupan mereka sebagai aset dan masa depan bangsa. Penanganan dan pendekatan program bagi remaja tidaklah sama dengan orang dewasa.Membutuhkan sebuah penanganan khusus yang juga memperhatikan aspek psikologi dan tumbuh kembang remaja terutama dalam program rehabilitasi. Rehabilitasi yang dilaksanakan oleh PLATO telah dikemas khusus anak, remaja dan perempuan. Dalam pelaksanaannya, PLATO ditunjuk sebagai Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL) oleh Kementerian Sosial.

Untuk mendukung pemulihan remaja yang bermasalah dengan NAPZA di sekolah, guru memiliki peran sangat strategis dan sangat penting untuk dilibatkan. Untukmeningkatkan kapasitas  dan skill guru dalam program pencegahan dan penanggulangan permasalahan NAPZA di sekolah, PLATO telah mengadakan pilot projek Pelatihan Guru Sebagai Katalisator Pencegahan dan Penanggulangan NAPZA Berbasis Sekolah.Pelatihan ini berlangsung selama 2 hari, pada tanggal 8-9 November 2016 dengan peserta sejumlah 9 orang yang merupakan perwakilan dari SMP dan SMA di Surabaya yang rentan terhadap siswa-siswi yang memiliki permasalahan terhadap NAPZA.

Pelatihan selama 2 hari ini diisi dengan pemberian materi mengenai pemetaan permasalahan NAPZA di sekolah, all about NAPZA dan deteksi dini penyalahguna NAPZA di Sekolah, psikologi adiksi dan penanganan penyalahguna NAPZA berbasis buktikegiatan, manajemen kasus NAPZA di sekolah, pengenalan asesmen dasar pada pengguna NAPZA di sekolah, konseling adiksi, dan membangun sistem P4GN(Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan, dan Peredaran Gelap NAPZA) di sekolah.  

 Berbagai metode dilakukan dalam penyampaian materi sehingga tidak terkesan membosankan. Mulai dari diskusi, presentasi, role play, dan games. Peserta menunjukkan antusias yang mendalam terhadap acara, sehingga peserta cukup komitmen dalam menjalani pelatihan dari awal sampai akhir.

Output dari kegiatan ini adalah

  1. Meningkatnya pengetahuan dan pemahaman peserta di bidang Adiksi NAPZA
  2. Meningkatnya skill peserta dalam melakukan deteksi dini, asesmen dan konseling terhadap siswa yang bermasalah dengan NAPZA
  3. Terbangunnya kepedulian dan partisipasi peserta dalam penanggulangan NAPZA di sekolah.

Rencana tindak lanjut dari pelatihan berupa rencana aksi dari guru untuk mengorganisir siswa-siswinya yang memiliki masalah dengan NAPZA. Selain itu guru akan memperkenalkan program PLATO berupa rehabilitasi rawat inap maupun rawat jalan agar siswa siswinya yang sudah terlanjur menyalahgunakan NAPZA dapat mengakses dengan mudah. Selain iti, pihak sekolah bersedia membantu siswanya untuk mengakses layanan jika memang dibutuhkan.

Pada akhirnya kita mempunyai impian bahwa guru BK akan lebih bijak jika menghadapi siswanya yang nakal dan memakai NAPZA. Tidak akan ada lagi cerita siswa dipaksa keluar dari sekolah karena menggunakan NAPZA. Pihak sekolah mampu memposisikan diri sebagai partner pencegahan dan penanggulangan  NAPZA yang efektif dan terdepan.

 

by : Dewi Masyithoh, S.Kep., Ns.

Edited by : Anna Ceria