ATASI ADIKSI DEMI MENCAPAI BONUS DEMOGRAFI

Apa itu bonus demografi? Apa hubungannya masalah adiksi dengan bonus tersebut?

Bonus demografi adalah bonus yang didapat oleh Indonesia karena jumlah usia produktif (15-64 tahun) akan lebih banyak jumlahnya daripada usia yang tidak produktif. Bonus ini akan didapat oleh Indonesia sekitar tahun 2020-2030. Data dari BKKBN menunjukkan bahwa pada tahun tersebut, diperkirakan ada 70% dari total penduduk Indonesia yang berusia produktif dan siap kerja. Bonus Demografi adalah keuntungan besar bagi Indonesia. Mengapa? Karena inilah peluang bagi Indonesia untuk semakin sejahtera secara ekonomi. Tentu saja, karena dengan banyaknya penduduk yang usianya produktif, akan banyak tenaga kerja yang tersedia. Tetapi, ada 2 masalah yang terpampang nyata, yaitu:

Apakah ada lapangan pekerjaannya? Mungkin ada, saat ini banyak program kewirausahaan dipersiapkan untuk menyambut Masyarakat Ekonomi ASEAN dan bonus ini. Lalu, Apakah sumber daya manusianya siap menghadapi bonus besar tersebut?

Inilah yang menjadi tantangan, apalagi saat ini, anak dan remaja serta pemuda yang disiapkan untuk menyambut bonus tersebut sedang terhalang dinding permasalahan adiksi. Ya, masalah adiksi narkoba menjadi isu darurat untuk segera diselesaikan. Meski banyak berkobar perang melawan narkoba saat ini, sebenarnya masalah narkoba adalah masalah lama yang saat ini sedang gencar-gencarnya. Data BNN Pusat menyatakan bahwa sejak Juni-November 2015, pengguna narkoba meningkat sebesar 1,7 juta, yakni dari 4,2 juta menjadi 5,9 juta jiwa (BNN, 2015). Berbagai polemik mengenai narkoba diungkap setiap hari. Kabar narkoba mewarnai setiap berita di berbagai stasiun TV. Apakah ini hanya menjadi isu penghias media atau memang masalah bersama yang perlu dihadapi? Bagaimana dengan anak-anak yang dikabarkan menjadi target utama peredaran, dengan alasan anak akan lebih mudah lepas dari jerat hukum. Bukankah sangat ironis dengan cita-cita bangsa yang ingin mencerdaskan generasi muda agar mampu menjadi kader yang siap berkarya untuk bangsanya. Bahkan kasus narkoba inilah ancaman kegagalan Indonesia mendapatkan bonus demografi dan pembangunan negara.

Apa yang harus dilakukan?

Solusi datang dari banyak pihak. Berbagai instansi baik pemerintah dan non-pemerintah serentak menggalang aksi bersama dalam perang melawan narkoba ini. Kebijakan juga mendukung program pencegahan dan penanggulangan narkoba. Adanya UU No. 35 Tahun 2009 juga menjadi penguat bahwa seseorang yang teradiksi oleh narkoba bukan kriminal dan berhak direhabilitasi. Adanya pembentukan Tim Asesmen Terpadu juga memberi jalan bagi pecandu yang terjerat hukum untuk dapat pulih dari kecanduan dan mendapatkan program pemulihan yang tepat, bukannya dikriminalisasi dan dipenjara. Aksi polisi untuk meminimalisir peredaran gelap juga gencar. Kementerian Sosial dan Kementerian Kesehatan juga mencanangkan program rehabilitasi sosial dan medis bagi pecandu. Lembaga Swadaya Masyarakat dan Penyelenggara Rehabilitasi juga telah siap memberikan pelayanan untuk membantu pecandu untuk pulih dan kembali produktif.

Lalu apanya yang kurang?

Kesadaran dari setiap warga bahwa ini adalah masalah bersama dan bukan masalah segelintir orang tertentu. Narkoba mengancam setiap jiwa, tidak peduli tua, muda, kaya, miskin, suku, ras, agama, dan strata sosial, semua berpotensi terkena. Untuk itulah perlu gerakan bersama. Mulai sadari jika ada keluarga terdekat yang dicurigai menggunakan narkoba. Ajaklah untuk berani melaporkan diri kepada Institusi Penerima Wajib Lapor (bisa Puskesmas, Rumah Sakit, Lembaga Rehabilitasi Medis atau Sosial) agar segera mendapat penanganan yang tepat dan mendapatkan program pemulihan dari adiksinya. Masa depan akan bisa tertata kembali bila pemulihan berjalan, karena kualitas pribadi-pribadi yang bagus menunjang pembangunan yang optimal.

Menjadi seorang pecandu narkoba bukanlah pilihan hidup maupun cita-cita setiap orang. Namun, ketika seseorang telah menjadi pecandu narkoba, hanya narkoba yang harus dipilih untuk “tetap hidup”. Bukankah lebih indah bila kita saling membantu mengeluarkan pecandu dari lingkaran kehidupan adiksinya yang hanya seputar narkoba? Hanya ada 3 pilihan bagi pecandu, yaitu penjara, kematian, atau pemulihan. Jika ia memilih pemulihan, akan banyak pilihan lainnya seperti pendidikan, kesehatan, dan kualitas hidup yang lebih baik. Dengan perbaikan kualitas hidup pecandu, menikmati bonus demografi bukan hanya sekedar impian.

 

(Niken Agus Tianingrum, SKM., M.K.M)