Social Entrepreneurship: Menuju Kemandirian Ekonomi Mantan Pecandu NAPZA

Apa itu social entrepreneurship? Mungkin belum banyak masyarakat Indonesia yang pernah mendengar istilah social entrepreneurship.  Menurut salah satu aktivis gerakan IDEAFEST (gerakan kebangkitan kreatif untuk perubahan), Rene Suhardono yang dimaksud dengan kewirausahaan sosial atau social entrepreneurship adalah ide dasar untuk menuntaskan masalah sosial dan ekonomi secara berkelanjutan dengan cara bisnis. Berbisnis merupakan solusi jangka panjang untuk masalah ekonomi di Indonesia. Menurut pendiri IDEAFEST Bernhard Soebiakto, keberadaan social entrepreneur di Indonesia masih sedikit jumlahnya. Padahal dengan hadirnya semangat berwirausaha dapat menjawab tantangan dan kondisi sosial di berbagai sektor, seperti misalnya pendidikan, kesehatan, tenaga kerja, transportasi. (www.kompas.com)

Kemiskinan yang terjadi di Indonesia menyebabkan berbagai masalah sosial di masyarakat. Diantaranya pendidikan yang rendah, penjualan manusia dan narkoba. Salah satu cara mengatasi kemiskinan adalah dengan mengembangkan  Social entrepreneurship  merupakan usaha berkelanjutan yang tetap mencari profit, tapi economic value-tidak terlalu banyak, tetapi lebih banyak ke social value.

Yayasan Plato yang beralamatkan di jalan tambang boyo no.154 Surabaya merupakan LSM di Surabaya yang bergerak dibidang pemberdayaan mantan pecandu NAPZA. Yayasan Plato mendirikan divisi kewirausahaan yang bergerak dibidang social entrepreneur  yaitu memberdayakan mantan pecandu yang telah selesai mengikuti program rehabilitasi untuk bekerja dan berkarya di yayasan plato. Dengan usaha ini diharapkan dapat membantu mantan pecandu untuk kembali kemasyarakat dan  menuju kemandirian ekonomi mantan pecandu NAPZA. Mantan pecandu dapat membantu pecandu lain yang ingin pulih melalui social entrepreneur  yang ada di Yayasan Plato.