Sinergitas Upaya Pencegahan dan Penanggulangan NAPZA,Seks bebas dan HIV di Sidoarjo

                Tahun 2016 adalah tahun keempat bagi VEDHA dengan dukungan dari MTV Staying Alive Foundation untuk menjalankan program Schools Caring for HIV&AIDS (SCARFS) dan ini juga merupakan kedua kalinya bagi Kota Sidoarjo sebagai tempat pelaksanaan project. Konsep SCARFS di tahun ini sedikit berbeda dari SCARFS sebelumnya, dimana sebelumnya, SCARFS secara langsung melibatkan 5 unit kegiatan mahasiswa di Surabaya, namun kali ini, SCARFS akan menggandeng 20 orang dari berbagai kalangan remaja sebagai fasilitator untuk pelaksanaan Roadshow terkait promosi kesehatan HIV&AIDS di 30 sekolah dan juga komunitas di Sidoarjo dan belum pernah terjangkau informasi HIV&AIDS sebelumnya. Untuk itu, tahun ini SCARFS menjadi Schools and Communities Caring for HIV&AIDS.

Kegiatan pertama SCARFS tahun 2016 adalah advokasi workshop bersama stakeholder dengan tema “Pertemuan Koordinasi Sinergitas Penanganan Remaja dalam Upaya Pencegahan dan Penanggulangan NAPZA,Seks Bebas dan HIV di Kab.Sidoarjo”. VEDHA berinisiasi untuk lebih meningkatkan jejaring kerjasama dengan berbagai lembaga, baik pemerintah, maupun non pemerintah. Workshop ini dikemas dalamsebuah pertemuan koordinasi, diprakarsai oleh VEDHA bekerjasama dengan PLATO Foundation dan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Sidoarjo.

  Pemilihan kabupaten sidoarjo sebagai lokasi project tahun ini dikarenakan Kabupaten Sidoarjo menduduki peringkat ketiga kasus HIV&AIDS terbesar di Jawa Timur. Kasus HIV&AIDS di Kabupaten Sidoarjo berdasarkan perkembangan kasus periode tahun 2001 sampai dengan Juni 2015 menunjukkan bahwa selalu terjadi peningkatan insiden kasus HIV&AIDS dari sebanyak 4 kasus pada tahun 2001 sampai dengan 1.485 kasus pada tahun 2015.  Berdasarkan umur,terbanyak pada usia produktif yaitu 24-49 tahun. Jika ditarik mundur, maka masa penularan terjadi pada usia remaja. WHO (2013) juga memaparkan bahwa lebih dari 2 juta remaja berusia 10-19 tahun telah hidup dengan status HIV dan 40% dan total infeksi baru di seluruh dunia disumbangkan oleh kaum muda (UNAIDS, 2014). 

Terdapat program peningkatan pengetahuan yang komprehensif tentang HIV&AIDS yang dinamakan ABAT(Aku Bangga Aku Tahu) berdasarkan surat keputusan bersama 5 Menteri (Kementerian Kesehatan, Kementerian Pendidikan, Kementerian Tenaga Kerja, Kementerian Sosial, dan Kementerian  Dalam Negeri). Hal ini dirasa cukup berat jika program penanggulangan HIV&AIDS pada remaja tidak dikoordinir secara optimal melalui manajemen koordinasi dan pelaporan yang baik oleh seluruh pelaksana program penanggulangan HIV&AIDS pada remaja.

 

                Kegiatan koordinasi ini melibatkan KPA Kabupaten Sidoarjo, mengingat KPA sebagai fungsi koordinatif bagi semua lembaga yang bergerak di bidang pencegahan dan penanggulangan HIV. Pertemuan yang dilaksanakan pada tanggal 29 Januari 2016 pukul 08.30 – 13.30 WIB bertempat di Pusat Pemulihan Adiksi Yayasan PLATO - Perum Magersari Permai Blok AM-3, dihadiri 27 orang. Sebanyak 14 institusi pemerintah, 5 NGO, dan 8 komunitas dan organisasi masyarakat terlibat di dalamnya.

                Acara ini dibuka dengan perkenalan dan dengan doa bersama oleh Ahmad Ansori, SHI. Setelah pembukaan, acara diserahkan kepada fasilitator Pak Nanang A. dilanjutkan dengan pemaparan materi pertama oleh BKKBN dengan materi “Potret Permasalahan Remaja dan Sistem Penanganan Remaja yang Efektif” oleh Bapak Yuni D. Tjadikijanto. Materi kedua dilanjutkan oleh Pak Hariadi selaku sekretaris KPA Sidoarjo dengan judul materi“Situasi dan Program Penanggulangan HIV & AIDS pada Remaja di Sidoarjo”.Selanjutnya, Kepala Badan Narkotika Nasional Kabupaten Sidoarjo juga memaparkan mengenai “Permasalahan Narkoba dan Upaya Penanggulangannya pada Remaja di Sidoarjo”. Ditutup pemaparan dari VEDHA bekerjasama dengan Yayasan PLATO juga memaparkan program remaja yang akan diusung di Kabupaten Sidoarjo, yaitu SCARFS.

 

Pemaparan berlanjut dengan diskusi yang menghasilkan beberapa rencana aksi sebagai berikut:

  1. BPMPKB akan menjangkau anak sekolah setingkat SMP&SMA untuk menjadi konselor sebaya di bidang kesehatan reproduksi.
  2. BAPPEDA akan mengkoordinir instansi pemerintah terkait pendanaan kegiatan
  3. Parpass mempunyai beberapa program yaitu  melakukan sosialisasi ke SMA dengan mengundang tokoh inspirasi muslim melalui metode stand up comedy di sekolah  dan siaran radio
  4. PERWASIDmemiliki program untuk mengadakan sosialisasi keseluruh waria yang ada di sidoarjo dan mobile klinik untuk VCT.
  5. DINKES Sidoarjo siap memfasilitasi tes IMS, dengan syarat menyiapkan tempat yang memadai dan berkoordinasi dengan RSUD

Hasil dari kegiatan ini adalah: Adanya sharing kendala dan best practice  antar pelaksana program remaja di Sidoarjo, Tersosialisasikannya program remaja yang akan dijalankan oleh seluruh stakeholder di Sidoarjo dan Terbangunnya sinergitas penanganan permasalahan kenakalan remaja di Sidoarjo. Adapun penjabaran dari ketiga hal tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Informasi, BPMPKB akan menjadi leading sector dalam pembuatan media sosialisasi dan informasi kepada remaja.
  2. Koordinasi, Komisi Penanggulangan AIDS Kabupaten Sidoarjo akan menjadi lembaga yang memfasilitasi pertemuan koordinasi rutin terkait program penanggulangan HIV dan remaja
  3. Jangkauan Layanan, Rumah Sakit Umum Daerah Sidoarjo akan memfasilitasi komunitas yang ingin mengajukan permohonan layanan “Mobile VCT”.

Diharapkan gerakan secara serentak dan bersinergi ini akan membuahkan hasil yang optimal dalam upaya penanggulangan HIV, NAPZA, dan Seks Bebas. Tidak ada satu permasalahanpun yang tidak dapat diselesaikan apabila dikerjakan dengan bersama-sama. Begitu pula dengan masalah HIV&AIDS, dengan program SCARFS ataupun yang lainnya, akan berkontribusi besar terhadap penanggulangan HIV&AIDS menuju remaja Sidoarjo yang lebih baik, sehat, dan berdaya.